Setiap musim Lebaran, umat Muslim merayakan moment istimewa dengan saling memaafkan, mempererat tali silaturahmi, dan memperkuat hubungan kekeluargaan. Di Jawa, tradisi sungkeman tetap lestari sebagai bagian dari budaya saat Lebaran, yang merupakan bentuk penghormatan anak kepada orang tua atau anggota keluarga yang lebih tua. Sungkeman dilakukan untuk menunjukkan bakti dan penghargaan terhadap jasa serta bimbingan orang tua sejak lahir hingga dewasa.
Tradisi sungkeman dilakukan dengan anak bersimpuh atau berjongkok di hadapan orang tua, lalu mencium tangan sebagai simbol penghormatan. Anak juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan yang mungkin telah terjadi. Ucapan permohonan maaf dalam sungkeman memiliki banyak variasi berbeda di setiap daerah, seperti contoh ucapan khas dalam tradisi Jawa saat Hari Raya Idul Fitri.
Dalam bahasa Jawa, ungkapan “Sugeng Riyadi” mengandung makna mendalam yang mencerminkan rasa syukur dan doa agar hari raya penuh berkah. Di samping itu, ucapan permintaan maaf dalam bahasa yang halus dan penuh penghormatan menjadi ciri khas saat sungkeman, menunjukkan sikap rendah hati dan penghormatan kepada orang tua atau sesepuh keluarga. Tradisi sungkeman memperkokoh hubungan keluarga dan memupuk rasa saling pengertian antar anggota keluarga.


