Monday, August 10, 2026
HomeLifestyleGejala Post Holiday Blues yang Perlu Diwaspadai

Gejala Post Holiday Blues yang Perlu Diwaspadai

Libur panjang sering kali menjadi momen yang sangat dinanti-nantikan oleh banyak orang, tapi di ujungnya ada yang disebut post holiday blues. Apa itu? Libur panjang, seperti Lebaran 2025, bisa berarti banyak karena bebas menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga, hingga sejenak melepaskan diri dari tekanan pekerjaan atau sekolah, liburan memberi ruang untuk bernapas dari rutinitas harian yang padat. Namun, tak jarang setelah momen-momen menyenangkan itu berakhir, muncul perasaan malas, sedih, atau bahkan cemas saat harus kembali ke aktivitas harian. Fenomena ini dikenal dengan istilah post-holiday blues.

Menurut psikolog klinis dewasa lulusan Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani, post-holiday blues adalah kondisi psikologis yang wajar terjadi setelah liburan. Dilansir dari Antara, Teresa Indira menggambarkannya sebagai “perasaan malas, kurang bersemangat, atau bahkan stres saat harus kembali ke rutinitas kerja atau sekolah”. Hal ini terjadi karena adanya kesenjangan besar antara suasana liburan yang bebas dan menyenangkan dengan rutinitas sehari-hari yang penuh tanggung jawab.

Liburan biasanya identik dengan kebebasan, fleksibilitas, eksplorasi, dan koneksi emosional, baik itu karena menikmati waktu sendiri atau bersama orang tersayang. Ketika semua itu berakhir dan kita harus kembali pada jadwal yang ketat, pekerjaan yang menumpuk, atau tugas-tugas akademik yang menanti, tubuh dan pikiran memerlukan waktu untuk beradaptasi. Kesenjangan emosional yang muncul inilah yang memicu perasaan kosong atau kehilangan.

Selain karena perbedaan suasana, Teresa juga menyoroti beberapa faktor lain yang dapat memperparah kondisi ini, seperti kelelahan fisik akibat perjalanan jauh, perubahan zona waktu, dan beban kerja yang menumpuk setelah kembali dari liburan. Bahkan rasa sepi atau kerinduan setelah meninggalkan kampung halaman juga bisa menjadi pemicu munculnya post-holiday blues. Secara umum, fenomena ini bersifat sementara dan biasanya mereda dalam beberapa hari. Namun, pada sebagian orang, kondisi ini bisa berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius seperti depresi, kecemasan berlebih, atau bahkan burnout jika tidak ditangani dengan tepat.

Ada beberapa gejala umum yang menunjukkan seseorang mengalami post-holiday blues. Beberapa di antaranya meliputi: rasa sedih atau cemas yang berkepanjangan, kesulitan berkonsentrasi, gangguan tidur atau pola makan yang berubah drastis, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, rasa lelah atau tidak termotivasi, emosi mudah berubah atau merasa sensitif secara berlebihan. Jika gejala-gejala ini berlangsung lebih dari dua minggu dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, seperti pekerjaan, studi, atau hubungan sosial, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental.

Untuk mengatasi perasaan ini, beberapa langkah sederhana namun efektif dapat dilakukan: 1. Beri waktu untuk transisi, jangan langsung membebani diri dengan aktivitas berat pada hari pertama kembali dari liburan. Beri waktu tubuh dan pikiran untuk menyesuaikan diri. 2. Buat rutinitas yang menyenangkan, sisipkan aktivitas kecil yang menyenangkan dalam rutinitas harian, seperti mendengarkan musik favorit, berolahraga ringan, atau bertemu teman. 3. Praktikkan self-care, luangkan waktu untuk merawat diri, seperti tidur cukup, makan bergizi, dan meditasi atau refleksi diri. 4. Tetapkan tujuan kecil, kembali bekerja atau belajar dengan menetapkan target kecil akan membantu meningkatkan motivasi dan rasa pencapaian. 5. Fokus pada hal-hal positif, alih-alih meratapi liburan yang telah berakhir, syukuri momen-momen indah yang telah dialami dan gunakan sebagai motivasi menjalani hari-hari ke depan.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler