Setelah melewati libur panjang, banyak orang mengalami apa yang disebut sebagai post holiday blues. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan perasaan peralihan dari kebebasan liburan kembali ke rutinitas sehari-hari, seperti pekerjaan atau sekolah. Post holiday blues tidak hanya ditandai dengan rasa malas, tetapi juga disertai dengan perasaan sedih dan cemas.
Psikolog klinis Teresa Indira Andani menjelaskan bahwa post holiday blues merupakan reaksi psikologis yang normal setelah liburan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan suasana antara liburan yang santai dengan aktivitas harian yang penuh tanggung jawab. Ketika liburan, orang bisa menikmati kebebasan, fleksibilitas, dan kebersamaan dengan orang-orang terdekat. Namun, setelah kembali ke rutinitas hidup yang teratur, seperti jadwal padat dan tugas-tugas, orang perlu waktu untuk menyesuaikan diri kembali.
Beberapa gejala umum dari post holiday blues meliputi perasaan sedih atau cemas, kesulitan berkonsentrasi, gangguan pola tidur atau makan, kehilangan minat pada aktivitas rutin, kelelahan yang terus-menerus, dan emosi yang mudah berubah. Untuk mengurangi post holiday blues, ada beberapa tips yang dapat diikuti, antara lain memberikan waktu untuk transisi secara perlahan, melakukan aktivitas yang menyenangkan sebelum memulai rutinitas harian, memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, menetapkan tujuan kecil, dan fokus pada sisi positif dari pengalaman liburan.
Mengenang momen-momen bahagia selama liburan dan menggunakan hal itu sebagai motivasi untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari dapat membantu mengatasi post holiday blues. Dengan demikian, peralihan dari liburan kembali ke rutinitas harian dapat menjadi lebih lancar dan tidak menyebabkan perasaan hampa atau kehilangan yang berkepanjangan.


