Kualitas Tidur Buruk Bisa Mengganggu Otak Bertahun-tahun Kemudian
Kurang tidur bukan sekadar membuat tubuh terasa lelah keesokan harinya. Sejumlah penelitian menunjukkan, kualitas tidur yang buruk dapat meninggalkan dampak jauh lebih serius pada kesehatan otak, termasuk meningkatkan risiko penurunan daya ingat dan demensia di kemudian hari.
Tidur yang Terganggu di Usia 30-an dan 40-an
Sebuah studi yang diterbitkan di Neurology mengungkap bahwa orang yang mengalami gangguan tidur pada usia 30-an dan 40-an memiliki kemungkinan dua hingga tiga kali lebih besar untuk mengalami penurunan fungsi eksekutif dan memori kerja sekitar satu dekade setelahnya. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kualitas tidur di usia produktif bukan hanya soal istirahat, tetapi juga soal perlindungan jangka panjang bagi otak.
Para ilmuwan menilai tidur lelap dan tidur dengan gerakan mata cepat atau REM memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan otak. Saat dua fase ini terganggu, proses pemulihan otak ikut terhambat dan risiko gangguan kognitif dapat meningkat.
REM dan Tidur Lelap Sama Pentingnya
Penelitian lain juga menemukan bahwa kurangnya tidur lelap dan REM dapat memicu atrofi otak setelah bertahun-tahun dipantau. Kondisi itu disebut mirip dengan tanda-tanda awal Alzheimer. Artinya, masalah tidur yang dibiarkan berlarut-larut tidak hanya memengaruhi energi harian, tetapi juga bisa berkaitan dengan perubahan struktural pada otak.
Secara umum, otak manusia melewati empat fase tidur. Di antaranya adalah tidur ringan, tidur lelap, dan fase REM. Selama proses ini, otak bekerja untuk memulihkan diri, mengonsolidasikan ingatan, serta membersihkan zat-zat yang tidak lagi dibutuhkan.
Gangguan Tidur dan Demensia Saling Memengaruhi
Studi pada 2017 menyebut durasi REM yang lebih pendek serta waktu yang lebih lama untuk mencapai fase REM dapat menjadi prediktor demensia di masa depan. Para peneliti juga menyoroti hubungan dua arah antara tidur dan demensia: kesulitan tidur dapat meningkatkan risiko demensia, sementara demensia sendiri dapat memperburuk kualitas tidur.
Karena itu, menjaga tidur cukup dan berkualitas setiap malam menjadi langkah penting untuk merawat kesehatan otak. Kebiasaan ini tidak berdiri sendiri. Aktivitas yang menstimulasi otak, seperti mempelajari keterampilan baru, juga dapat membantu proses pemulihan saat tidur. Di sisi lain, olahraga teratur dapat memperlancar aliran darah ke otak dan mendukung proses pembersihan glimfatik.
Pada akhirnya, memberi waktu yang cukup bagi tubuh untuk masuk ke fase tidur yang dalam bukan hanya soal merasa segar saat bangun. Itu juga menjadi bagian dari upaya menjaga otak tetap bekerja optimal dalam jangka panjang.
Source link


