Studi Baru: Asupan Kalori yang Cukup Bisa Menekan Risiko Cedera Pelari
Pelari jarak jauh kerap fokus pada latihan, pace, dan jarak tempuh, tetapi penelitian terbaru mengingatkan satu hal yang tak kalah penting: apa yang masuk ke tubuh. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Science and Medicine in Sport menemukan bahwa asupan nutrisi tertentu, terutama lemak, kalori, dan serat, berkaitan erat dengan risiko cedera pada pelari.
Kalori dan lemak jadi pembeda
Temuan ini menunjukkan bahwa pelari wanita yang mengalami cedera cenderung mengonsumsi kalori dan lemak lebih sedikit dibandingkan mereka yang tidak cedera. Artinya, kekurangan energi bukan hanya berdampak pada performa, tetapi juga bisa membuat tubuh lebih rentan saat beban latihan terus meningkat.
Menariknya, penelitian tersebut tidak menemukan pengaruh berarti dari protein, alkohol, karbohidrat, maupun kalsium terhadap risiko cedera. Hasil ini menegaskan bahwa bukan sekadar “makan cukup” yang penting, melainkan juga komposisi asupan harian yang seimbang.
Serat ikut berperan dalam pemulihan tubuh
Selain kalori dan lemak, para peneliti menyoroti pentingnya serat makanan. Asupan serat yang memadai dinilai dapat membantu menekan peradangan sekaligus mendukung kesehatan tulang dan otot. Bagi pelari jarak jauh, dua hal ini krusial karena tubuh terus dipaksa bekerja keras dan membutuhkan pemulihan yang baik setelah latihan berat.
Asosiasi Ahli Gizi Olahraga dan Performa Amerika merekomendasikan agar 50 hingga 65 persen kalori harian berasal dari karbohidrat, 20 persen hingga 35 persen dari lemak, dan 10 persen hingga 20 persen dari protein. Komposisi ini dinilai membantu menjaga energi tetap stabil sekaligus mendukung proses pemulihan.
Lemak bukan musuh, justru penopang fungsi tubuh
Direktur medis Scripps Ranch Family Medicine Clinic, Sarah Merrill, MD, menegaskan bahwa lemak memiliki fungsi penting dalam tubuh. Lemak membantu penyerapan vitamin-vitamin penting, mengatur hormon, membangun membran sel, dan mengendalikan peradangan. Karena itu, mengurangi lemak terlalu jauh justru bisa merugikan pelari.
Makanan tinggi serat seperti buah-buahan dan gandum utuh juga dinilai mendukung mikrobioma usus yang sehat. Kondisi usus yang baik berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dan regulasi rasa sakit yang lebih baik, dua hal yang sangat dibutuhkan saat tubuh dipaksa berlari dalam jarak jauh.
Dengan kata lain, pencegahan cedera pada pelari tidak hanya ditentukan oleh sepatu, program latihan, atau istirahat. Pola makan yang tepat, cukup energi, dan keseimbangan nutrisi justru bisa menjadi faktor yang menentukan apakah tubuh sanggup bertahan atau justru tumbang di tengah latihan.
Source link


