Real Madrid kembali bersiap memasuki babak baru. Carlo Ancelotti, sosok yang selama dua periode kepelatihannya berhasil mengangkat nama Los Blancos di panggung Eropa dan Spanyol, dipastikan akan meninggalkan klub pada akhir musim. Keputusan itu muncul di tengah musim yang tidak berjalan sesuai harapan, setelah Madrid gagal mengamankan trofi pada ajang 2024/25. Meski kontraknya masih tersisa satu tahun, Ancelotti kini sudah resmi ditunjuk sebagai pelatih baru timnas Brasil.
Warisan Ancelotti di Madrid
Selama menangani Real Madrid, Ancelotti mencatatkan total 15 trofi. Catatan itu membuat namanya sejajar dengan pelatih paling sukses dalam sejarah klub. Dari jumlah tersebut, tiga gelar Liga Champions menjadi pencapaian paling menonjol, mempertegas reputasinya sebagai pelatih yang mampu menjaga standar tinggi di kompetisi paling bergengsi Eropa.
Selain itu, Ancelotti juga mempersembahkan dua gelar La Liga dan dua trofi Piala Raja Spanyol. Deretan prestasi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilannya di Madrid tidak hanya bertumpu pada turnamen antarklub Eropa, tetapi juga konsisten di level domestik. Dalam dua periode kepemimpinannya, ia membangun tim yang tak hanya kuat secara taktik, tetapi juga matang dalam menghadapi tekanan.
Madrid mulai bersiap mencari penerus
Kepergian Ancelotti membuat Real Madrid harus segera menyusun langkah berikutnya. Nama Xabi Alonso, eks pemain Madrid yang kini melatih Bayer Leverkusen, semakin santer dikaitkan sebagai calon pengganti. Isyarat dari Leverkusen lewat media sosial ikut memperkuat spekulasi bahwa Alonso memang sedang menuju pintu keluar.
Di sisi lain, Madrid masih menyisakan peluang untuk menutup musim dengan gelar. Saat ini mereka tertinggal tujuh poin dari Barcelona di puncak klasemen Liga Spanyol, sehingga persaingan masih belum sepenuhnya berakhir. Namun, apa pun hasil akhirnya, musim ini tampaknya akan menjadi penutup dari era Ancelotti di Santiago Bernabeu.
Akhir era yang sulit dihindari
Bagi Madrid, kepergian Ancelotti bukan sekadar pergantian pelatih, melainkan perubahan besar di ruang ganti dan arah tim ke depan. Klub kini dituntut bergerak cepat agar transisi berjalan mulus, terlebih setelah pelatih yang mereka miliki selama ini meninggalkan warisan yang sangat berat untuk diteruskan.
Source link


