Ethereum kembali jadi sorotan setelah mencatat lonjakan hampir 40% hanya dalam sepekan, dari USD 1.800 ke USD 2.500. Kenaikan secepat ini memang memancing minat baru di pasar, tetapi para analis menilai reli tersebut belum cukup untuk disebut kokoh. Bagi mereka, pertanyaan utamanya bukan lagi seberapa tinggi Ethereum bisa naik dalam waktu singkat, melainkan apakah penguatnya berasal dari fondasi yang benar-benar sehat.
Lonjakan harga ditopang sentimen makro
Di pasar yang sensitif terhadap kabar besar, pengumuman Presiden AS Donald Trump soal pembicaraan yang konstruktif dengan China serta perjanjian perdagangan terbatas dengan Inggris ikut menyuntikkan optimisme. Sentimen positif itu tak hanya mengangkat saham, tetapi juga membantu mendorong aset berisiko lainnya. Namun, untuk kripto, dorongan semacam ini kerap bersifat sementara. Bitcoin dan Ethereum justru sempat terkoreksi setelah reli sebelumnya, yang menurut analisis dipicu aksi ambil untung dari pelaku pasar.
Fundamental masih jadi penentu
Meski harga Ethereum masih menunjukkan kenaikan yang kuat dalam rentang satu minggu, sejumlah ahli mengingatkan bahwa rebound terbaru bisa saja lebih banyak digerakkan oleh sentimen dan faktor politik ketimbang kekuatan dasar pasar. Dalam pandangan mereka, kenaikan lanjutan akan lebih sulit bertahan jika tidak disokong oleh fundamental yang solid. Artinya, Ethereum masih harus membuktikan bahwa lonjakan harga ini bukan sekadar reaksi cepat terhadap kabar eksternal.
ETF jadi sorotan utama
Skeptisisme juga muncul dari pergerakan dana di ETF. ETF spot Bitcoin dilaporkan mencatat arus masuk besar dari investor institusi, sementara ETF Ethereum justru mengalami arus keluar yang signifikan. Kondisi ini memberi sinyal bahwa minat terhadap Ethereum saat ini lebih banyak datang dari investor kripto individual ketimbang institusi. Bagi pasar, perbedaan arus dana tersebut menjadi petunjuk penting bahwa reli Ethereum belum sepenuhnya ditopang oleh permintaan yang lebih mapan.
Source link


