Gandhi Fernando Tulis Novel Penunggu Rumah: Pengalaman Baru
Legenda lokal tak pernah benar-benar kehilangan tempat di hati masyarakat Indonesia. Nama-nama seperti Buto Ijo masih mudah memunculkan rasa penasaran, apalagi bagi mereka yang tumbuh bersama cerita rakyat yang sarat unsur mistis. Dari kedekatan itulah Gandhi Fernando mencoba menghadirkan nuansa serupa lewat pengalaman barunya dalam dunia cerita, yang terasa lebih dekat dengan keseharian ketimbang sekadar ketakutan fiksi.
Ketakutan yang Berasal dari Cerita yang Dikenal
Gandhi Fernando, yang dikenal lewat film The Right One dan Tuyul, kembali menunjukkan ketertarikannya pada kisah-kisah bernuansa lokal. Bagi banyak orang, horor justru terasa lebih kuat ketika bersumber dari sosok yang sudah akrab sejak kecil. Itulah yang membuat tokoh seperti Buto Ijo tetap hidup di ingatan publik, karena bukan hanya menakutkan, tetapi juga punya ikatan emosional dengan masa tumbuh seseorang.
Pengalaman Baru dalam Cerita yang Dekat dengan Kehidupan
Melalui Penunggu Rumah, Gandhi seolah membawa ketegangan ke ruang yang paling dekat dengan manusia: rumah. Premis seperti ini memberi kesan bahwa rasa seram tidak selalu datang dari tempat jauh atau kejadian luar biasa, melainkan dari sesuatu yang bisa terasa hadir di sekitar. Di situlah daya tarik cerita rakyat bekerja, karena unsur lokalnya membuat pengalaman horor terasa lebih personal dan mudah membekas.
Daya Tarik Kisah Lokal Tetap Kuat
Di tengah banyaknya cerita horor modern, kisah-kisah yang berakar pada tradisi tetap punya tempat tersendiri. Sosok seperti Buto Ijo, misalnya, tidak hanya dikenal sebagai bagian dari legenda, tetapi juga sebagai simbol ketakutan yang diwariskan lintas generasi. Gandhi Fernando tampaknya membaca kekuatan itu dengan baik: bahwa cerita yang dekat dengan budaya sendiri sering kali justru lebih efektif meninggalkan kesan dibanding horor yang datang dari luar.
Source link


