Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie kembali menarik perhatian lewat buku terbarunya, “Negara Berkesadaran: Dari Mimpi Peradaban Menuju Kelahiran Bangsa Berkesadaran”. Akademisi yang kini tinggal di Rusia itu tidak sekadar menawarkan bacaan reflektif, tetapi juga sebuah seruan serius tentang arah pembangunan Indonesia. Di tengah derasnya perubahan zaman, Connie mendorong pembaca untuk melihat bangsa bukan hanya dari sisi pertumbuhan fisik dan angka-angka ekonomi, melainkan dari kualitas kesadaran kolektif yang menopangnya.
Buku sebagai ajakan membangun kesadaran bangsa
Dalam peluncuran bukunya, Connie menegaskan bahwa karya ini lahir dari kegelisahan sekaligus harapan. Ia menyebut buku tersebut sebagai “doa panjang untuk Indonesia.” Menurutnya, ketika kebenaran dan cinta kasih terhambat, bangsa bisa kehilangan arah. Namun, ia tetap meyakini Indonesia memiliki modal besar untuk naik ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi dan menjadi bangsa yang lebih matang dalam berpikir maupun bertindak.
Pandangan itu membuat buku ini terasa lebih luas dari sekadar esai pemikiran. Isinya mengajak pembaca merenungkan ulang fondasi kebangsaan, terutama tentang bagaimana negara dibangun melalui kesadaran bersama, bukan hanya melalui kekuatan struktural.
TEPIDOIL dan arah masa depan Indonesia
Untuk menjelaskan gagasannya, Connie menggunakan pendekatan TEPIDOIL, singkatan dari Teknologi, Ekonomi, Politik, Ideologi, Demografi, Organisasi, Informasi, dan Lingkungan. Melalui kerangka itu, ia menyusun gambaran tentang masa depan Indonesia yang lebih terpadu dan selaras dengan tantangan zaman. Pendekatan tersebut juga ditautkan dengan nilai-nilai Pancasila, pemikiran Soekarno, serta kearifan lokal yang selama ini menjadi bagian dari identitas bangsa.
Di titik ini, buku Connie tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi juga tentang arah. Ia menempatkan Indonesia dalam percakapan yang lebih besar: bagaimana sebuah bangsa bertahan dan tumbuh ketika kesadaran warganya ikut naik bersama perubahan dunia.
Kuat di gagasan, luas dalam jangkauan
Salah satu hal yang menonjol dari buku ini adalah penyajiannya dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Langkah tersebut membuka peluang agar gagasan Connie tidak berhenti di ruang diskusi domestik, tetapi juga bisa dibaca oleh audiens internasional. Dengan begitu, pesan tentang negara berkesadaran dapat menjangkau lebih banyak kalangan, sekaligus memperlihatkan bahwa gagasan kebangsaan Indonesia punya relevansi di luar negeri.
Connie menekankan bahwa kekuatan bangsa tidak semata diukur dari cadangan sumber daya, jumlah senjata, atau pertumbuhan ekonomi. Yang lebih menentukan, menurutnya, adalah kesadaran kolektif yang mampu menyatukan arah, nilai, dan tujuan bersama. Dari sanalah buku ini berdiri: sebagai ajakan untuk melihat Indonesia dengan cara yang lebih dalam, lebih utuh, dan lebih jernih.
Source link


