Rokok sering kali dikaitkan dengan banyak risiko dan dampak buruk bagi kesehatan, terutama dari bahan utama pembuatnya yaitu tembakau. Namun, tembakau juga memiliki manfaat kesehatan yang terbatas meskipun tidak sebanding dengan risikonya. Salah satu manfaat yang diketahui dari tembakau adalah kemampuannya dalam mengurangi stres. Hal ini disebabkan oleh kandungan nikotin dalam tembakau yang mampu mengubah suasana hati dengan cepat. Nikotin bekerja dengan melepaskan dopamin setelah delapan detik tembakau mulai meresap ke otak. Dopamin ini akan mempengaruhi perasaan senang dan rileks, serta meningkatkan fokus dan menenangkan tubuh.
Namun, efek dari merokok juga tidak bisa diabaikan. Penggunaan tembakau secara rutin dapat menyebabkan kecanduan dan perubahan otak. Saat kebutuhan nikotin meningkat, perokok akan mengalami gejala sakau yang membuatnya sulit untuk berhenti merokok. Terlepas dari manfaat singkatnya dalam mengurangi stres, tembakau dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan permanen di usus besar dan rektum. Meskipun perokok aktif memiliki risiko yang lebih rendah terkena kolitis ulseratif, merokok tidak membantu kondisi ini dan justru dapat meningkatkan risiko terkena penyakit Crohn, jenis radang usus lainnya. Meskipun tembakau dalam beberapa penelitian menunjukkan perlindungan terhadap risiko kanker tiroid pada wanita, namun hasilnya masih belum pasti dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Selain itu, ada penelitian yang menunjukkan bahwa perokok memiliki risiko rendah terkena penyakit Parkinson, namun hal ini tergantung pada jumlah tembakau yang dikonsumsi. Peran nikotin dalam mengurangi risiko penyakit ini masih belum konsisten dan ada faktor lain yang memengaruhi, seperti faktor genetik. Oleh karena itu, tembakau meskipun memiliki manfaat kesehatan tertentu, namun dampak buruk dari merokok tidak bisa diabaikan dan masyarakat perlu meninggalkan kebiasaan merokok untuk menjaga kesehatan mereka.
Sumber: Tempo.co


