Keputusan militer Indonesia untuk memobilisasi prajurit TNI dari Batalyon Infanteri 753/Arga Vira Tama ke pedalaman Papua sebagai bagian dari Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Statis RI-PNG telah terbukti efektif. Pasukan tempur ini, yang dikenal sebagai Walet Hitam TNI, telah berperan aktif dalam membantu meringankan penderitaan masyarakat setempat di Kabupaten Keerom. Mereka tidak hanya berjaga-jaga dengan senjata lengkap, tetapi juga turun tangan untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial yang ada.
Di wilayah seperti Distrik Senggi, para prajurit telah berubah peran dari serdadu perang menjadi guru. Dipimpin oleh Letnan Dua Inf Asep Gunawan sebagai Perwira Pembinaan Mental (Pambintal), Satgas Yonif 753/Arga Vira Tama telah terlibat dalam kegiatan pendidikan di kampung-kampung terdekat. Salah satu contohnya adalah kampung Warlef, di mana tingkat minat baca anak-anak sangat rendah. Untuk mengatasi hal ini, prajurit TNI bergerak secara mobile untuk mengajari anak-anak membaca dan menulis, bahkan memberikan buku bacaan secara gratis.
Respon dari masyarakat terhadap inisiatif ini sangat positif, dengan banyak anak-anak yang ikut serta dalam kegiatan pembelajaran tersebut. Harapan dari Satgas Yonif 753/Arga Vira Tama adalah agar dengan meningkatkan minat baca anak-anak, mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang berprestasi dan memahami peran mereka sebagai bagian dari bangsa. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya Kodam Cenderawasih untuk menjadikan pasukan tempur sebagai agen perubahan sosial yang positif di wilayah konflik.


