Monday, June 8, 2026
HomeLifestyleSejarah dan Mitos 1 Suro: Asal Usul dan Legenda

Sejarah dan Mitos 1 Suro: Asal Usul dan Legenda

Sejarah dan Mitos 1 Suro: Asal Usul dan Legenda

Malam 1 Suro selalu punya tempat istimewa dalam ingatan masyarakat Jawa. Bukan sekadar penanda pergantian waktu, momen yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah ini kerap dipandang sebagai saat yang sarat doa, laku batin, dan kehati-hatian. Di banyak daerah, 1 Suro tidak diperlakukan seperti malam biasa. Ada nuansa hening, ada rangkaian ritual, dan ada keyakinan kuat bahwa inilah waktu untuk menahan diri sekaligus menata ulang langkah hidup.

Asal Usul 1 Suro dalam Tradisi Jawa

Istilah “suro” diyakini berasal dari kata “asyura”, yang merujuk pada hari pertama tahun baru Islam di bulan Muharram. Dalam tradisi Jawa, malam 1 Suro dipahami sebagai awal Tahun Jawa yang disambut dengan berbagai bentuk perenungan dan ritual. Salah satu yang dikenal luas adalah tapa mbisu mubeng beteng, yaitu puasa bicara sambil berjalan mengelilingi benteng keraton. Praktik ini dipandang sebagai simbol pengendalian diri, kesederhanaan, dan introspeksi.

Jejak Sultan Agung dalam Penetapan Tahun Jawa

Penetapan 1 Suro sebagai awal Tahun Baru Jawa tidak lepas dari kebijakan Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kesultanan Mataram. Pada 8 Juli 1633 M, Sultan Agung memadukan kalender Saka dengan kalender Hijriah. Langkah ini bukan hanya soal penanggalan, tetapi juga upaya menyatukan masyarakat Jawa yang kala itu terbelah dalam sejumlah kelompok sosial dan keagamaan. Dari situlah 1 Suro kemudian ditetapkan sebagai awal Tahun Jawa, beriringan dengan 1 Muharram dalam kalender Islam.

Ritual, Larangan, dan Keyakinan yang Masih Hidup

Di banyak lingkungan Jawa, malam 1 Suro identik dengan tirakat, meditasi, mandi kembang, hingga ziarah ke makam leluhur. Semua itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan, permohonan keselamatan, dan harapan agar terhindar dari marabahaya. Tidak sedikit pula masyarakat yang meyakini malam ini sebagai waktu ketika energi gaib sedang kuat, sehingga mereka memilih bersikap lebih tenang, menghindari keramaian, tidak menggelar hajatan, dan menjaga ucapan agar tidak berkata kasar.

Di sisi lain, bulan Suro juga disebut sebagai bulan keramat dalam tradisi Jawa, sejalan dengan Muharram yang dalam Islam termasuk bulan suci. Perpaduan nilai budaya dan keagamaan inilah yang membuat 1 Suro terus bertahan sebagai momen yang dihormati, bukan hanya karena mitosnya, tetapi juga karena makna pengendalian diri yang melekat di dalamnya.

Dua penulis, yaitu Laili Ira dan Rachel Farahdiba Regar, turut berkontribusi dalam pembuatan artikel ini.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler