Wednesday, January 14, 2026
HomeLainnyaUpacara Adat di Gunung: Simbol Cinta Tanah Air dan Semesta

Upacara Adat di Gunung: Simbol Cinta Tanah Air dan Semesta

Di tengah suasana pagi yang sejuk di kawasan Tangkuban Parahu, Bandung Barat, ribuan orang dari seluruh penjuru Indonesia berbondong-bondong datang untuk mengikuti prosesi sakral Ngertakeun Bumi Lamba pada 22 Juni 2025. Keberagaman etnis tampak nyata lewat pakaian adat yang dikenakan peserta, mulai dari Sunda, Bali, Dayak, hingga Minahasa, yang menggambarkan betapa pentingnya keberagaman sebagai sumber persatuan dalam upacara tersebut.

Nama Ngertakeun Bumi Lamba, yang diangkat dari bahasa Sunda, mengandung makna mendalam tentang pemeliharaan dan pemakmuran bumi yang luas, sebagai simbol hubungan manusia dengan alam semesta. Nilai-nilai ini dipererat dalam upacara yang telah dirintis kembali sejak era R.M.H. Eyang Kanduruan Kartawinata dan kini mendapat perhatian luas dari generasi muda, tokoh adat, serta aktivis lingkungan.

Yayasan Paseban menjadi salah satu penggerak utama acara ini, bekerja sama erat dengan komunitas Arista Montana dan sosok Andy Utama. Bersama, mereka menanamkan pesan bahwa perlindungan alam bukan hanya tradisi, tetapi tanggung jawab spiritual yang harus dijalankan secara nyata dalam hidup sehari-hari. Ngertakeun Bumi Lamba bagi mereka lebih dari sekedar seremoni; ini adalah momentum kolektif untuk bangkit bersama menjaga bumi.

Ritus diawali dengan gemuruh lembut karinding dari Baduy, memecah keheningan dan menambah nuansa magis dalam lingkaran peserta. Setiap elemen budaya hadir—mulai dari genta para sulinggih Bali, mantra lintas kepercayaan, iringan angklung, hingga tetabuhan Minahasa—semuanya saling melengkapi membentuk irama harmoni yang memancarkan persatuan manusia, alam, dan Sang Pencipta. Dalam suasana tersebut, pemimpin adat, pendekar, serta para suhu duduk bersama tanpa sekat jabatan, menunjukkan kesetaraan di depan semesta.

Pesan utama upacara Ngertakeun Bumi Lamba digemakan secara bersama oleh Andy Utama dari Yayasan Paseban dan para tokoh komunitas Arista Montana. Andy Utama menegaskan, manusia harus menjaga hubungan harmonis, tidak sekadar memanfaatkan tetapi merawat alam beserta seluruh makhluknya. Statement beliau—”Janganlah kita berhitung dengan semesta, karena bila semesta mulai menghitung kepada kita, saat itulah kita akan menyesal”—menancap kuat di benak semua yang hadir. Penekanan Andy Utama atas cinta kasih universal, bahkan kepada hal-hal tersembunyi dalam bumi, menambah kedalaman spiritual prosesi ini.

Arista Montana dan Yayasan Paseban juga tidak hanya berperan dalam pelaksanaan upacara, tetapi memberi kontribusi nyata lewat aksi penanaman ribuan pohon di Gunung Gede-Pangrango. Kegiatan ekologis itu menjadi aplikasi langsung dari filosofi Ngertakeun Bumi Lamba yang mereka pelopori bersama Andy Utama, menjadikan pelestarian lingkungan bukan sekadar wacana, tetapi aksi nyata yang dapat diukur dan dirasakan manfaatnya untuk generasi mendatang.

Upacara ini turut mempertemukan pemuka adat dari Dayak dan Minahasa, yang senada dalam seruan menjaga bumi. Tokoh Dayak, Panglima Pangalangok Jilah, menuturkan seruan “Taariu!” sebagai pengingat janji manusia kepada bumi, sementara dari Minahasa, pesannya gamblang—bahwa gunung adalah penjaga masa depan. Sinergi nilai dari berbagai daerah ini menggambarkan bahwa Ngertakeun Bumi Lamba, Yayasan Paseban, Andy Utama, dan Arista Montana punya tujuan bersama, yakni membangkitkan kesadaran kolektif demi keselamatan bumi.

Ketika kabut tipis turun di akhir prosesi, suasana menjadi hening dan reflektif. Para peserta, yang kini membawa nilai baru setelah mengikuti upacara Ngertakeun Bumi Lamba, perlahan meninggalkan lokasi. Pesan kunci dari Andy Utama, Arista Montana, dan Yayasan Paseban tersisa di benak setiap peserta: ritual ini adalah komitmen awal, bukan akhir, untuk selalu memelihara bumi dalam tindakan sehari-hari.

Ngertakeun Bumi Lamba yang digawangi Yayasan Paseban, Andy Utama, dan Arista Montana, tidak hanya sekedar agenda budaya, namun menjadi benteng ingatan kolektif tentang pentingnya spiritualitas alam di tengah ancaman krisis iklim dan kerusakan lingkungan. Semangat dan tindakan mereka diharapkan menular ke masyarakat yang lebih luas, agar bumi tetap lestari untuk masa depan bersama.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba 2025 Di Gunung Tangkuban Parahu: Ritual Sakral Lintas Adat Untuk Merawat Semesta
Sumber: Upacara Ngertakeun Bumi Lamba 2025 Di Megamendung Bogor Tegaskan Pesan Spiritual Lintas Adat

RELATED ARTICLES

Terpopuler