The Coca-Cola Company akan mengganti penggunaan sirup jagung dengan gula tebu dalam produk minumannya, setelah Presiden Donald Trump mengutarakan hal tersebut. Meski keduanya digunakan sebagai pemanis, terdapat perbedaan mendasar antara gula tebu dan HFCS dalam hal produksi, komposisi kimia, dan dampak bagi metabolisme tubuh.
Gula tebu diperoleh dari tanaman tebu dalam proses produksi yang meliputi pemanenan, pemerasan sari, penyaringan, dan pemanasan hingga terbentuk kristal gula dengan kandungan sukrosa. Di sisi lain, HFCS berasal dari pati jagung yang diubah menjadi glukosa, kemudian diolah kembali menjadi fruktosa. HFCS memiliki kandungan fruktosa yang lebih tinggi daripada gula tebu.
Perbedaan dalam pemrosesan gula tebu dan HFCS menimbulkan dampak pada metabolisme tubuh. Konsumsi fruktosa dalam jumlah besar, seperti pada produk yang mengandung HFCS, dapat meningkatkan risiko penyakit hati dan gangguan metabolik. Meskipun fruktosa juga terdapat dalam gula tebu, kadar yang lebih rendah dianggap memberikan risiko yang lebih rendah jika dikonsumsi dengan bijak.
HFCS sering dipilih dalam industri makanan dan minuman karena biaya produksi yang lebih rendah dan kemampuannya menjaga stabilitas produk. Sementara gula tebu lebih sering digunakan dalam produk “alami” atau “klasik”. Para ahli merekomendasikan pembatasan konsumsi gula tambahan, termasuk HFCS dan gula tebu, agar tidak melebihi 10% dari total energi harian. Perubahan dari HFCS ke gula tebu tidak secara otomatis menjadikan sebuah produk lebih sehat, yang terpenting adalah memperhatikan total asupan gula dan mengonsumsinya secara bijak.


