Sustainable Fashion semakin mendapat perhatian di Indonesia, namun harganya yang tinggi menjadi salah satu tantangan utama. Menurut Sustainable Fashion Designer Adrie Basuki, salah satu penyebab harga tinggi adalah karena banyak pekerjaan manual yang dilibatkan. Adrie menyatakan bahwa para desainer perlu melakukan riset lebih lanjut dan pengembangan produk untuk menekan harga. Untuk memperkenalkan sustainable fashion kepada masyarakat, Adrie juga mengadakan berbagai kampanye, termasuk program tukar daur dimana orang dapat menukar pakaian bekas mereka dengan produk Adrie dengan diskon hingga 20 persen.
Selain harga tinggi, kurangnya kolaborasi juga menjadi perhatian Adrie. Ia berharap bisa lebih banyak berkolaborasi dengan lembaga dan masyarakat untuk mengkampanyekan sustainable fashion di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan bekerja sama dengan Bank OCBC dalam program circular fashion. Melalui kolaborasi ini, seragam batik bekas karyawan OCBC diubah menjadi koleksi fashion bernilai guna seperti tote bag, laptop sleeve, dan lainnya dengan pendekatan ramah lingkungan.
Bank OCBC sendiri telah menyalurkan pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp 37,85 triliun melalui inisiatif Green Financing dan Sustainable-linked Loan. Melalui pembiayaan ini, OCBC berupaya mendorong transformasi menuju praktik yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Bank ini juga memberikan insentif pengurangan suku bunga kredit bagi pengusaha yang mengutamakan pembiayaan hijau dalam usaha mereka. Dengan berbagai program dan kolaborasi ini, diharapkan sustainable fashion dan praktik bisnis berkelanjutan dapat terus meningkat di Indonesia.


