Dominasi Bitcoin di pasar kripto mulai dikejutkan dengan lonjakan harga Ethereum yang mendekati puncaknya dalam beberapa bulan terakhir. Dengan rasio ETH/BTC yang kini mencapai 0,058, para pelaku kripto mulai mempertimbangkan strategi rotasi dana dari Bitcoin ke Ethereum untuk memanfaatkan potensi musim altcoin.
Terinspirasi dari konsep “rotasi”, investor dapat menukar sementara kepemilikan Bitcoin dengan Ethereum ketika altcoin diprediksi akan mengungguli Bitcoin, kemudian kembali menuju BTC setelah meraih keuntungan. Meskipun strategi ini menjanjikan keuntungan cepat, namun juga membawa risiko tinggi termasuk potensi kerugian besar dan masalah pajak.
Para pendukung rotasi memperhatikan sejumlah indikator positif yang mendukung pertumbuhan Ethereum. Dalam 90 hari terakhir, ETH telah mencatatkan kenaikan hingga 102%, jauh melampaui lonjakan Bitcoin yang hanya sekitar 22%, menunjukkan potensi keuntungan jangka pendek dari aset kripto selain BTC. Faktor fundamental seperti Undang-undang Genius Act yang mendorong adopsi stablecoin secara institusional di jaringan Ethereum juga menjadi daya tarik bagi ETH.
Berbagai proyeksi menunjukkan potensi pergerakan rasio ETH/BTC, dengan perkiraan turun ke kisaran 0,03–0,045 sebelum kemungkinan memantul kembali. Beberapa trader bahkan memproyeksikan rasio bisa melonjak hingga rentang 0,049 hingga 0,088, berdasarkan pengamatan pola pergerakan pasar sebelumnya.
Tidak hanya itu, beberapa investor juga mencoba strategi rotasi tanpa harus menjual Bitcoin secara langsung. Mereka memanfaatkan platform pinjaman untuk mengagunkan BTC guna memperoleh stablecoin yang kemudian digunakan untuk membeli ETH. Meskipun strategi ini dapat menghindari pajak capital gain, tetapi tetap membawa risiko tinggi seperti kemungkinan likuidasi aset jika pasar bergerak tidak sesuai harapan.


