Paparan sinar matahari yang berkepanjangan dapat berdampak buruk pada kesehatan kulit. Untuk melindungi kulit dari bahaya sinar UV, penggunaan tabir surya seperti sunscreen atau sunblock sangat disarankan oleh para ahli. Canadian Medical Association Journal mencatat bahwa pemakaian tabir surya dapat mengurangi risiko kanker kulit, termasuk jenis sel skuamosa dan melanoma. Sunscreen dan sunblock, dua produk pelindung kulit dari sinar UV, memiliki perbedaan dalam kandungan, tekstur, dan cara kerja yang membuat keduanya memiliki keunggulan masing-masing.
Sunscreen mengandalkan senyawa kimia seperti Octocrylene, Mexoryl XL, SPF, dan PA untuk menyerap sinar UV sebelum mencapai lapisan kulit yang lebih dalam. Sementara sunblock mengandung mineral alami seperti titanium dioxide yang secara fisik memantulkan sinar matahari sebelum masuk ke kulit. Perbedaan juga terlihat pada tekstur kedua produk tersebut, dengan sunscreen hadir dalam berbagai bentuk seperti krim, gel, spray, atau serum ringan yang nyaman dipakai sehari-hari. Sunblock biasanya lebih kental dan padat saat diaplikasikan.
Dari segi fungsi, sunscreen bekerja dengan menyerap sinar UV dan mengubahnya menjadi energi panas yang dikeluarkan dari tubuh, melindungi kulit dari sinar UVB dan beberapa formula baru juga menangkal sinar UVA. Sunblock membentuk lapisan pelindung fisik di kulit untuk memantulkan sinar UVA dan UVB, menjadikannya pilihan tepat bagi mereka dengan kulit sensitif. Sunblock cenderung meninggalkan lapisan putih di kulit, sementara sunscreen lebih ringan dan cocok untuk digunakan sebelum makeup.
Kedua jenis tabir surya ini perlu diaplikasikan ulang setiap dua hingga tiga jam untuk menjaga efektivitasnya, terutama saat beraktivitas di bawah sinar matahari atau setelah berenang. Penggunaan tabir surya, baik sunscreen maupun sunblock, sebaiknya dijadikan bagian dari rutinitas harian untuk menjaga kesehatan kulit jangka panjang. Pemilihan produk sebaiknya disesuaikan dengan jenis kulit, aktivitas, dan kenyamanan penggunaan.


