Korea Utara telah menjadi sorotan setelah dituduh mencuri kripto senilai 17 juta poundsterling atau sekitar Rp 373,10 miliar dari perusahaan rintisan Inggris. Berdasarkan laporan di Yahoo Finance, peretas Korea Utara yang teridentifikasi sebagai geng siber Lazarus disebut sebagai pelaku di balik aksi pencurian tersebut, yang menyerang platform perdagangan kripto Lykke yang berbasis di Inggris.
Aksi pencurian ini disebut sebagai yang terbesar yang melibatkan Korea Utara dalam menargetkan Inggris. Tindakan seperti ini diyakini telah memberikan keuntungan miliaran dolar AS bagi Korea Utara untuk mendanai program militer dan nuklir mereka. Lykke sendiri didirikan pada tahun 2015 dan beroperasi dari Swiss, meskipun terdaftar di Inggris. Perusahaan tersebut mengumumkan bahwa sebelumnya telah kehilangan sejumlah besar aset kripto, termasuk Bitcoin dan Ethereum, senilai USD22,8 juta atau sekitar Rp 368,64 miliar, yang membuat mereka harus menghentikan operasional mereka.








