Pidato kunci Dr. Sulistyo di International Postgraduate Student Conference (IPGSC) menyoroti betapa berbedanya ruang siber dengan domain tradisional seperti darat, laut, dan udara. Sebagai Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Pemerintahan dan Pembangunan Manusia dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), beliau menekankan bahwa ruang siber adalah dunia tanpa sekat wilayah, tanpa satu pun yurisdiksi absolut, serta tanpa otoritas tunggal yang bisa mengaturnya secara penuh. Unsur tanpa batas ini memberikan ruang siber posisi strategis dalam geopolitik, membawa ancaman maupun peluang yang sangat besar, yang tidak ditemukan dalam ranah fisik.
Dr. Sulistyo menggarisbawahi bahwa tidak ada negara yang dapat mengklaim otoritas tunggal di ruang siber, di mana serangan atau ancaman dapat terjadi tanpa memandang batas negara. Dunia siber tak sekadar infrastruktur pendukung aktivitas digital, namun telah berevolusi menjadi tempat di mana negara, perusahaan, dan individu bisa bersaing, berkolaborasi, bahkan saling mengancam keamanan satu sama lain. Hal ini memunculkan tantangan unik yang sama sekali berbeda dari dunia nyata, membuat konsep kedaulatan perlu diinterpretasi ulang dalam konteks digital.
Karakter lintas batas dari dunia maya juga memudahkan aksi-aksi jahat dilakukan oleh pihak yang nyaris tidak teridentifikasi. Kelompok peretas, sindikat kejahatan siber, hingga aktor non-negara yang disokong kekuatan besar punya ruang bergerak sangat luas, tanpa harus menabrak batas negara secara fisik. Bahkan, serangan siber bisa mengenai infrastruktur kritis atau sistem pemerintah dalam hitungan detik dan tidak jarang attribution atau penentuan pelaku menjadi sangat sulit. Kondisi inilah yang memperumit koordinasi penegakan hukum serta upaya respons atas insiden global.
Dalam tatanan global, negara-negara dihadapkan pada dilema: bagaimana melindungi kepentingan nasional di ‘tanah’ tanpa batas yang seringkali aturannya ambigu atau bahkan belum diatur secara komprehensif? Dr. Sulistyo menyoroti bahwa ruang digital merevolusi pola pertahanan dan memperluas dimensi konflik internasional. Konflik siber umumnya terjadi tanpa pernyataan perang, tanpa pengerahan tentara, namun dapat saja dampaknya jauh lebih luas dibandingkan konflik fisik konvensional, misal melumpuhkan ekonomi negara target, memengaruhi opini publik, atau merusak kepercayaan masyarakat pada lembaga pemerintah.
Era kompetisi geopolitik kini semakin kuat di dunia maya. Disiplin ilmu seperti kecerdasan buatan, komputasi kuantum, dan jaringan komunikasi modern menjadi senjata baru yang menentukan posisi suatu negara dalam kancah internasional. Negara dengan kemampuan teknologi canggih cenderung memiliki pengaruh lebih besar, sehingga ketimpangan kapasitas digital antara negara berkembang dan negara maju mudah diperparah oleh aspek borderless ruang siber.
Indonesia, kata Sulistyo, memilih menjawab tantangan ini lewat penguatan diplomasi dan kolaborasi lintas negara. Prinsip politik luar negeri bebas aktif menjadi dasar pendekatan Indonesia dalam membangun arsitektur tata kelola siber global yang lebih adil dan partisipatif. Melalui kerja sama di ASEAN, PBB, serta forum multilateral lain, Indonesia terus berperan aktif dalam penyusunan norma perilaku negara, penciptaan mekanisme pencegahan insiden, dan penguatan kapasitas regional menghadapi serangan siber.
Dr. Sulistyo juga menegaskan komitmen Indonesia untuk meningkatkan kapasitas keamanan siber nasional. Salah satu fokus utamanya adalah memperbaharui arsitektur pertahanan siber agar lebih modern dan responsif terhadap dinamika ancaman digital yang berkembang sangat cepat. Tidak hanya itu, Indonesia juga menyadari pentingnya membangun kolaborasi internasional yang erat, karena karakter borderless membuat sebuah negara mustahil berdiri sendiri dalam menjaga keamanan sibernya. Itulah alasan pentingnya membangun SDM siber yang kompeten dan siap menghadapi perkembangan ekosistem digital dunia.
Mengakhiri pidatonya, beliau menekankan bahwa keamanan siber telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keamanan internasional. Di era ketidakpastian dan ketidakjelasan batas wilayah siber, nasib satu negara bergantung erat pada seluruh tatanan keamanan global. Karenanya, sinergi, adaptasi, dan penguatan kapasitas menjadi kunci utama untuk menavigasi tantangan dunia siber yang semakin kompleks.
Sumber: Ruang Siber Yang Borderless Mengubah Peta Keamanan Internasional, Ini Sikap Indonesia
Sumber: Ruang Siber Yang Borderless Dan Implikasinya Bagi Keamanan Internasional: Perspektif Indonesia








