Monday, June 8, 2026
HomeLainnyaWahdi Azmi: Lingkungan adalah Bagian dari Sistem

Wahdi Azmi: Lingkungan adalah Bagian dari Sistem

Topik konservasi di Indonesia selama ini sering hanya dikaitkan dengan perlindungan hutan atau satwa, padahal akar masalahnya seringkali lebih dalam, yaitu minimnya keterlibatan manusia di dalamnya. Banyak perbincangan mengenai pelestarian alam selalu berfokus pada menurunnya habitat, punahnya satwa, hingga semakin intensnya bentrokan manusia dan margasatwa. Tapi, seringkali, faktor manusia seolah-olah hanya dianggap sebagai penyebab masalah, bukan bagian dari solusi.

Wahdi Azmi, seorang dokter hewan dan pelaku konservasi berpengalaman di Sumatera, menyoroti pentingnya memasukkan manusia sebagai sentral dalam program konservasi. Dari pengalaman bertahun-tahun menghadapi konflik antara manusia dan gajah, Wahdi belajar bahwa perubahan lanskap yang tidak mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat sekitar menjadi sumber utama friksi. Ketika hutan beralih menjadi kebun atau pemukiman, bukan hanya satwa berkembang yang kehilangan ruang hidup, tapi juga penduduk lokal yang makin tertekan secara ekonomi.

Ia memahami, selama konservasi masih diperlakukan sebagai upaya sepihak dengan memisahkan manusia dari sistem alam, maka strategi ini rawan gagal. Pendekatan proteksionis seperti membatasi kawasan dan memberlakukan larangan memang terlihat logis secara hukum, namun di lapangan, seringkali justru menimbulkan keterasingan. Kebijakan-kebijakan tersebut membuat masyarakat setempat merasa dijauhkan dari sumber penghidupan, berkurangnya kesempatan ekonomi dan bahkan kadang meningkatkan potensi konflik dengan satwa liar.

Wahdi mengingatkan agar konservasi seharusnya menjadi proses integratif, menggabungkan kepentingan konservasi, pemberdayaan ekonomi lokal, dan edukasi masyarakat. Menurutnya, pelestarian tidak hanya soal menjaga hutan dan fauna, melainkan membangun ekosistem yang saling menguntungkan antara manusia dan lingkungan. Ia mengajak pemangku kebijakan untuk memperlakukan manusia bukan sekadar objek, melainkan subjek utama dalam ekosistem. Artinya, manusia harus memperoleh manfaat konkret dari upaya menjaga lingkungan. Bila masyarakat sekitar ikut merasa diuntungkan, pelestarian alam otomatis akan mendapat dukungan kuat dari akar rumput.

Gagasan integrasi konservasi ini kini mulai diadopsi dalam praktik, salah satu contohnya ada di kawasan Mega Mendung, Bogor. Kawasan ini menghadapi tekanan alih fungsi lahan yang besar seiring perkembangan wilayah Jabodetabek. Namun, di bawah koordinasi Yayasan Paseban, dibangun model pelestarian dengan memasukkan kegiatan pertanian organik berbasis komunitas ke dalam desain konservasi. Petani lokal dilibatkan aktif dari tahap produksi hingga distribusi, lengkap dengan pelatihan pengelolaan lingkungan. Hal ini menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar slogan, tapi erat kaitannya dengan penghidupan masyarakat sehari-hari.

Program-program pelatihan dan edukasi tak sekadar memperkenalkan konsep konservasi, tetapi juga membekali masyarakat agar mampu mengelola sumber daya alam secara lestari sembari mendapat manfaat ekonominya. Dengan begitu, posisi masyarakat berubah dari sekadar penerima manfaat pasif menjadi pelaku utama. Kapasitas lokal meningkat dan masyarakat semakin memiliki andil dalam memastikan keberlanjutan lingkungan. Model seperti ini juga relevan diterapkan di wilayah lain yang menghadapi tekanan serupa.

Kisah sukses Mega Mendung dan pengalaman Wahdi di Sumatera sama-sama menunjukkan bahwa pelibatan masyarakat adalah kunci sukses konservasi berkelanjutan. Ketika manfaat ekonomi, pengetahuan praktis, dan kepedulian lingkungan menyatu dalam satu ekosistem sosial, pelestarian tidak lagi dianggap beban, namun menjadi kebutuhan bersama. Keterkaitan erat antara kelestarian alam dan kesejahteraan warga menjadi fondasi program-program berbasis integrasi.

Seringkali, kegagalan konservasi di Indonesia bukan disebabkan oleh kurangnya ide atau kebijakan, melainkan akibat tidak adanya kapasitas di tingkat lokal dan minimnya pelibatan masyarakat. Selama masyarakat tidak diperkuat dan tetap berada di pinggir program konservasi, upaya pelestarian hanya akan bersifat sementara atau terancam gagal. Sebaliknya, ketika peluang ekonomi diperluas dan pengetahuan diberikan kepada warga, konservasi tumbuh dengan sendirinya dan tidak terus-menerus tergantung pada intervensi dari luar.

Di tengah derasnya pembangunan dan kebutuhan lahan, Indonesia butuh pendekatan baru dalam konservasi—yakni menjadikan pelestarian lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dari praktik ekonomi dan pendidikan di masyarakat. Kawasan lindung memang penting, tetapi jauh lebih penting membangun ekosistem partisipatif di mana keuntungan dari pelestarian bisa dirasakan nyata oleh masyarakat sekitar.

Dengan demikian, konservasi tidak lagi berdiri sendiri sebagai domain ahli dan regulator, tapi berlangsung alami dalam kehidupan harian masyarakat. Keberlanjutan alam hanya akan tercapai jika manusia merasa memiliki tujuan dan alasan kuat untuk terlibat langsung dalam proses menjaga lingkungan. Maka, masa depan konservasi Indonesia tidak cukup hanya diukur dari jumlah luas kawasan yang dilindungi, tetapi seberapa banyak masyarakat yang merasa diuntungkan dan terikat dengan kelestarian itu sendiri.

Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat
Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi

RELATED ARTICLES

Terpopuler