Monday, June 8, 2026
HomeLainnyaAnak Muda Harus Paham Risiko Konflik Global dan Dampaknya

Anak Muda Harus Paham Risiko Konflik Global dan Dampaknya

Di tengah maraknya perbincangan publik maupun di media sosial mengenai potensi terjadinya perang dunia, generasi muda banyak diliputi kecemasan tentang masa depan keamanan global. Kekhawatiran tersebut turut menjadi latar belakang digelarnya IR Youth Talks#1 oleh Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek, yang diselenggarakan di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, FISIP Universitas Indonesia pada 21 April 2026.

Acara ini dirancang sebagai wadah diskusi terbuka, menghadirkan berbagai perspektif tentang peran Indonesia di tengah perubahan geopolitik dunia. Diskusi diawali oleh Anggy Pasaribu, seorang jurnalis sekaligus pendiri “Story of Anggy”, yang mengajak audiens untuk mengkaji isu perang dunia dari sudut pandang kritis, bukan sebatas asumsi dan ketakutan semata.

Alih-alih menawarkan jawaban tunggal, Anggy mendorong peserta untuk memilah informasi dan melihat dinamika internasional dengan kepala dingin. Menurutnya, kekhawatiran generasi muda harus didampingi dengan edukasi dan pemahaman yang memadai, agar tidak terjebak dalam spekulasi berlebihan.

Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso, Direktur Kajian Ideologi dan Politik Lemhannas RI, turut memperingatkan agar para pemuda tidak terperangkap dalam isu perang dunia yang belum tentu terjadi. Ia menekankan bahwa kesiapan nasional menghadapi segala bentuk krisis global jauh lebih penting daripada sekadar meramalkan terjadinya konflik besar.

Aloysius memaparkan upaya Lemhannas dalam menganalisis potensi ancaman global, mulai dari pemetaan risiko hingga penyusunan strategi menghadapi berbagai skenario keamanan. Dalam kajian tersebut, Lemhannas menemukan bahwa Indonesia memiliki sejumlah titik rawan, seperti ketergantungan pada energi dan pangan impor, serta posisi geografis yang strategis di kawasan Indo-Pasifik, yang rentan terpengaruh rivalitas antarnegara besar.

Dampak dari situasi tersebut dapat langsung dirasakan dalam negeri, misalnya lonjakan harga energi, gangguan pada ketahanan ekonomi, hingga ancaman terhadap stabilitas keamanan nasional. Karena itu, Aloysius menegaskan pentingnya memperkuat fondasi negara melalui Pancasila sebagai pegangan utama yang menjaga persatuan di tengah tekanan eksternal.

Menurut Aloysius, kekuatan bangsa tak hanya terletak pada senjata maupun perekonomian, namun lebih kepada ketahanan ideologi. Jika ideologi bangsa kokoh, segala tekanan dari luar tidak mudah menggoyahkan persatuan nasional.

Broto Wardoyo, Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia, menyoroti perlunya mengamati transformasi tatanan internasional dengan pendekatan konseptual. Baginya, konflik global saat ini lebih tepat dipahami sebagai rangkaian krisis yang saling bersinggungan, daripada sinyal pasti akan pecahnya perang dunia.

Ia menjelaskan bahwa dinamika dunia saat ini dipenuhi oleh saling keterkaitan antara konflik politik, persoalan energi, dan gejolak ekonomi internasional. Broto juga menyoroti faktor pemimpin dunia seperti Donald Trump yang melalui kebijakan-kebijakan kontroversialnya mempercepat ketidakpastian dalam tatanan global.

Sebagai respons, Broto mengenalkan strategi resilience-based hedging, yakni memperkuat daya tahan dalam negeri serta fleksibilitas dalam diplomasi internasional. Langkah tersebut dianggap penting agar Indonesia mampu menghadapi perubahan global tanpa mudah terpengaruh gelombang krisis eksternal.

Kegiatan IR Youth Talks bukan hanya ajang diskusi, melainkan juga mempertemukan mahasiswa, akademisi, dan pengambil kebijakan dari enam kampus di Jabodetabek dalam satu forum setara. Jeanne Francoise, dosen Hubungan Internasional President University, menekankan bahwa inisiatif ini bertujuan memperluas akses pemahaman isu global pada generasi muda lintas universitas.

Jeanne berharap para peserta tidak sekadar menjadi penonton dalam dinamika dunia, tetapi juga terlibat aktif memahami kompleksitas persoalan global yang berpengaruh langsung pada kehidupan mereka di masa mendatang.

Menjelang penutupan diskusi, Anggy kembali mengingatkan pentingnya penggunaan ruang publik sebagai sarana menyampaikan gagasan secara cerdas dan konstruktif. Kritik memang dibutuhkan, namun harus diutarakan dalam koridor yang sopan dan tepat sasaran, agar tidak menambah kebingungan publik.

Anggy menambahkan, kontribusi generasi muda dalam kehidupan publik tidak melulu lewat aksi vokal yang keras, tapi bisa dimulai dari usaha memahami isu secara mendalam dan berdialog dengan cara yang santun.

Akhirnya, disimpulkan bahwa kepastian dunia memang sulit diraih, namun respons kolektif dan kesiapan mental jauh lebih penting daripada sekadar larut dalam kecemasan. Generasi muda diharapkan mampu menjadi agen perubahan dengan mengedepankan pemikiran kritis dan kesiapan beradaptasi menghadapi segala kemungkinan.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko

RELATED ARTICLES

Terpopuler