Wednesday, July 15, 2026
HomeLainnyaNgertakeun Bumi Lamba XVIII Menumbuhkan Optimisme bagi Kelestarian Bumi

Ngertakeun Bumi Lamba XVIII Menumbuhkan Optimisme bagi Kelestarian Bumi

Keputusan-keputusan penting yang kita buat saat ini adalah penentu utama masa depan bumi, bukan generasi yang akan datang. Dunia kini menghadapi kenyataan krisis iklim dan rusaknya hutan yang terus bertambah parah, sehingga menjaga alam harus dilihat sebagai tanggung jawab bersama, bukan sekadar pilihan pribadi. Hutang ekologis yang kita punya kepada generasi mendatang adalah mandat yang tidak bisa diabaikan.

Semangat ini pula yang terasa dalam pagelaran adat Ngertakeun Bumi Lamba XVIII di Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu, Kabupaten Subang. Acara pada hari Minggu itu mengangkat tema “Manik Maya, Ibu Bumi, Bapak Angkasa,” dan menjadi titik temu bagi para tokoh adat, pecinta budaya, serta pegiat lingkungan dari seluruh Nusantara. Bersama, mereka merenungkan makna relasi manusia dan lingkungan yang semakin tergerus modernisasi.

Pada puncak momen refleksi tersebut, Andy Utama, sosok pembina Paseban Foundation, menegaskan betapa hari ini adalah fondasi hari esok melalui pernyataannya: “Dengan Adanya Hari Ini, Maka Baru Ada Hari Esok”. Ucapannya menggugah peserta yang hadir untuk semakin menyadari beratnya tanggung jawab yang digenggam.

Sejatinya, pemikiran yang tergambar dalam upacara adat Sunda itu telah digagas sejak puluhan tahun lalu. Emil Salim, tokoh lingkungan bangsa ini, sudah mewanti-wanti bahwa pembangunan berkelanjutan wajib berjalan seiring laju ekonomi, kelestarian lingkungan, dan stabilitas sosial. Ia percaya, menjaga daya dukung bumi adalah satu-satunya jalan agar anak cucu kita tetap bisa hidup layak.

Dalam kancah ilmiah internasional, prinsip ini seirama dengan teori keadilan antargenerasi dari Richard P. Hiskes. Ajaran itu berkata bahwa manusia masa kini berkewajiban memberi hak layak atas lingkungan hidup yang sehat untuk generasi masa depan. Andy Utama pun mengajak semua orang untuk berhenti merasa sebagai “penguasa bumi”, melainkan kembali menjadi penjaga ekosistem yang setia.

Tetapi filosofi luhur tidak cukup hanya didiskusikan, Andy membuktikan bahwa kepedulian harus menyentuh tanah langsung. Melalui Paseban Foundation, ia merealisasikan ide-ide tua tersebut di kawasan Lanskap Megamendung lewat aksi nyata.

Beberapa contoh langkah yang sudah mereka lakukan antara lain penerapan pertanian ramah lingkungan, membangun pusat konservasi satwa di Lembah Aviary Paseban, penangkaran Rusa Timor, serta menjaga habitat Elang Jawa dengan melepasliakan satwa-satwa langka. Tak hanya itu, mereka telah menanam lebih dari 21.000 bibit pohon yang meliputi ratusan spesies. Upaya penanaman besar-besaran ini menjadi pijakan bagi terciptanya hutan Megamendung seperti sedia kala.

Keunikan gerakan yang dibangun Andy terletak pada keberhasilannya menghidupkan teori lingkungan kelas dunia dalam kerja nyata. Ia tidak sekadar bicara, tapi mengubah ilmu menjadi bibit pohon, sekop, dan lahan konservasi yang jelas wujudnya.

Akhirnya, Andy berujar, “Apa yang orang ingat bukanlah tumpukan milik yang kita kejar saat hidup, tapi bekal yang kita tinggalkan demi kehidupan.” Kata-kata itu menegaskan makna utama Ngertakeun Bumi Lamba: menjaga alam hari ini adalah kunci kehidupan esok yang layak, bukan sekadar warisan materi. Keputusan setiap orang untuk bertindak sekarang adalah harapan utama bagi keberlangsungan bumi dan manusia di masa mendatang.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba XVIII: Tradisi Yang Menjadi Inspirasi Konservasi Modern
Sumber: Warisan Untuk Masa Depan: Belajar Menjaga Keseimbangan Alam Dari Ritual Ngertakeun Bumi Lamba XVIII

RELATED ARTICLES

Terpopuler