Tuesday, September 8, 2026
HomeLainnyaBroto Wardoyo dan Perspektif Baru tentang Peran Militer Modern

Broto Wardoyo dan Perspektif Baru tentang Peran Militer Modern

Dalam perbincangan tentang profesionalisme militer, sering muncul berbagai pemahaman yang masing-masing menyoroti dimensi yang berbeda tentang bagaimana militer menjalankan tugasnya. Umumnya, banyak pihak meyakini profesionalisme militer berkaitan erat dengan kepakaran mengelola kekuatan bersenjata, tunduk pada kekuasaan politik sipil, serta fokus utama pada pertahanan negara dari ancaman eksternal.

Namun, profesionalisme militermodern tidak dapat dilepaskan dari dinamika lingkungan strategis dan politik, di mana fungsi dan batasan kerja militer selalu bisa berubah mengikuti kebutuhan negara dan masyarakat. Seiring bergulirnya waktu, semakin jelas bahwa profesionalisme militer tidak sekadar soal kecakapan perang, tetapi juga tentang disiplin menjalankan peran sesuai mandat dan menghindari melampaui batas otonomi yang telah ditetapkan.

Fakta ini terlihat jelas di negara-negara yang tergabung dalam NATO. Setelah invasi Rusia ke Ukraina, NATO kembali menekankan pentingnya strategi deterensi dan pertahanan bersama. Meski begitu, portofolio tugas militer negara-negara anggota NATO tidak lagi terbatas pada ancaman antarnegara. Mereka kini memimpin misi penjagaan perdamaian di Kosovo, membantu pengembangan keamanan di Irak, menjaga keamanan maritim di Mediterania melalui Operation Sea Guardian, mengawasi jalur migrasi di Laut Aegea, hingga mendukung logistik strategis Uni Afrika.

Lebih dari itu, pengalaman historis NATO membuktikan luwesnya peran militer: mereka pernah menegakkan embargo, menjalankan operasi kemanusiaan, menanggulangi bencana, serta berkontribusi pada pengamanan perhelatan besar seperti Olimpiade Athena. NATO bahkan mengatur perbedaan antara operasi manajemen krisis dan penegakan keamanan, tanpa mengorbankan kesiapan tempur sebagai fungsi vital.

Maka, yang terjadi bukanlah sekadar penggantian fungsi, tapi juga akumulasi tugas di mana kemampuan teknis perang tetap dijaga sembari fungsi sosial dan kemanusiaan juga dikembangkan. Perluasan peran militer ini sejalan dengan pendapat Dandeker bahwa militer kini dihadapkan pada lingkungan keamanan yang lebih kompleks, bukan sekadar satu musuh yang jelas. Di samping itu, Edmunds menekankan bahwa cakupan tugas militer ditentukan pula oleh tuntutan sosial, anggaran, dan dinamika politik.

Dalam ranah teori, Huntington menegaskan bahwa profesionalisme ideal menawarkan otonomi dalam praktik teknis namun tetap tunduk pada arah politik yang digariskan sipil. Keterbatasan pada tugas militer murni diyakini akan menjauhkan militer dari dinamika politik dalam negeri dan menjaga objektivitas hubungan sipil-militer. Di sisi lain, Stepan menunjukkan bahwa di Amerika Latin, ekspansi peran militer menuju keamanan internal dan pembangunan nasional justru mendorong militer berurusan dengan ranah politik, ekonomi, dan administrasi.

Pengalaman Eropa menghadirkan model yang lebih beragam. Militer Eropa seringkali juga terlibat dalam pembangunan kapasitas, operasi kemanusiaan, dan penanggulangan bencana, namun otonomi mereka tetap dikendalikan oleh pemerintah sipil dan mekanisme akuntabilitas demokratis. Bahkan dalam berbagai tugas non-militer seperti pengawasan atau bantuan pasca-bencana, militer tidak serta-merta diberi kewenangan politik lebih luas.

Schnabel dan Hristov membedakan antara tugas militer yang bersifat subsidiari—artinya militer hanya membantu instansi lain yang memegang komando utama—dan tugas yang bersifat utama. Dalam pengawasan maritim misalnya, militer hanya mendukung, tidak mengambil alih penegakan hukum. Begitu pula pada ranah bencana, militer berperan mendukung, sementara pemerintah sipil tetap memiliki keputusan final.

Peran militer yang terus meluas memunculkan risiko, seperti turunnya kapabilitas sipil atau terjadinya ketergantungan institusi terhadap bantuan militer. Jika militer terus dituntut menangani berbagai sektor, bisa jadi tumpul dalam fungsi utamanya. Oleh sebab itu, lebih penting mempertanyakan alasan, mandat, serta mekanisme akuntabilitas keterlibatan militer pada setiap tugas, bukan sekadar membagi tugas dalam kategori militer atau sipil.

Pada akhirnya, profesionalisme militer bukan semata-mata persoalan luasnya ragam tugas, melainkan juga kemampuan institusi itu untuk tetap menjaga subordinasi pada kekuasaan sipil meskipun peran mereka ikut berkembang. Fungsi pertahanan eksternal memang tetap jadi kompetensi inti, tetapi hal itu tidaklah menutup kemungkinan keterlibatan militer di sektor lain selama proses pembatasan kewenangan, pertanggungjawaban, dan komando tetap dipegang sipil.

Pengalaman NATO memberi pelajaran bahwa profesionalisme militer dalam demokrasi modern ternyata sangat terkait pada siapa yang memberi mandat, dalam sistem hukum dan kontrol apa tugas berjalan, dan bagaimana akuntabilitasnya dijalankan. Militermodern tidak mungkin bertumpu pada satu model profesionalisme saja. Pengelolaan peran, tanggung jawab, dan batas kewenangan adalah kunci agar profesionalisme tetap terjaga di tengah perubahan kebutuhan strategis dan tuntutan sosial yang terus berkembang.

Sumber: Militer Profesional Tak Hanya Untuk Perang, Broto Wardoyo Soroti Batas Peran
Sumber: Militer Profesional Untuk Apa?

RELATED ARTICLES

Terpopuler