Samarinda — Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menyoroti jurang ketimpangan yang masih terasa kuat di wilayah pedalaman Kaltim. Di satu sisi, pembangunan terus berjalan. Namun di sisi lain, masih ada warga yang harus menghadapi harga kebutuhan dasar yang melambung tinggi, dari semen yang tembus Rp800 ribu per sak hingga BBM yang nyaris menyentuh Rp30 ribu per liter.
Harga Melonjak, Akses Dasar Masih Tertinggal
Menurut Rudy, kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bahwa persoalan kemiskinan di Kaltim tidak bisa dipandang hanya dari angka pendapatan. Ketika harga material dan energi di daerah terpencil jauh lebih mahal dibanding wilayah perkotaan, beban masyarakat otomatis semakin berat. Situasi itu juga diperparah oleh masih adanya warga yang belum menikmati listrik, sehingga aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari berjalan dalam keterbatasan.
Rudy menegaskan, sulit berbicara soal kemajuan jika masih ada masyarakat yang hidup dalam gelap. Ia menyebut Kaltim memiliki 1.038 kelurahan dan desa, tetapi belum semuanya tersambung aliran listrik. Ketimpangan inilah yang, menurutnya, harus diselesaikan terlebih dahulu bila pemerintah ingin menekan angka kemiskinan secara nyata.
Gratis Pol dan Jospol Jadi Andalan Pemprov
Untuk menjawab persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi Kaltim meluncurkan dua program unggulan, yakni Gratis Pol dan Jospol. Gratis Pol difokuskan pada pendidikan dan kesehatan gratis, sementara Jospol diarahkan untuk jaminan sosial serta pembangunan infrastruktur. Dua program ini diposisikan sebagai langkah langsung untuk menyentuh akar masalah kemiskinan, bukan sekadar menangani gejalanya.
Melalui Jospol, Pemprov Kaltim menargetkan perbaikan akses jalan, listrik, dan infrastruktur dasar lain ke daerah pelosok. Sementara lewat Gratis Pol, pemerintah ingin meringankan beban masyarakat agar akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan tidak lagi menjadi hambatan bagi keluarga kurang mampu.
Optimistis Kejar Kesejahteraan Kawasan Tetangga
Rudy menyatakan optimistis Kaltim bisa keluar dari jebakan kemiskinan jika pemerataan layanan dasar berjalan konsisten. Ia bahkan membandingkan arah pembangunan daerahnya dengan standar kesejahteraan negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei, yang menurutnya bisa menjadi pembanding dalam mengejar kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.
Baginya, pekerjaan rumah terbesar Kaltim bukan hanya membangun kota-kota besar, tetapi memastikan desa dan kampung di pedalaman ikut merasakan manfaat pembangunan secara nyata. Dari listrik, jalan, hingga harga kebutuhan yang lebih masuk akal, semua menjadi bagian dari pertaruhan besar untuk menutup ketimpangan yang selama ini membebani warga.
Source link


