Friday, May 15, 2026
HomeBeritaPindahnya Orangutan Masuk Kebun Warga ke Hutan Lindung Gunung Tarak

Pindahnya Orangutan Masuk Kebun Warga ke Hutan Lindung Gunung Tarak

Pindahnya Orangutan Masuk Kebun Warga ke Hutan Lindung Gunung Tarak

Seekor orangutan jantan dewasa yang selama ini kerap muncul di kebun warga Dusun Sumber Priangan, Desa Simpang Tiga Sembelangaan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, akhirnya dipindahkan ke Hutan Lindung Gunung Tarak. Langkah ini diambil setelah kemunculannya berulang kali memicu keresahan karena satwa tersebut merusak tanaman jambu, kelapa, dan nanas milik warga.

Translokasi dilakukan tim gabungan dari BKSDA Kalbar, KPH Ketapang Selatan, dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Proses ini menjadi jalan tengah untuk menghindari konflik yang lebih besar antara manusia dan orangutan, terlebih lokasi kemunculannya berada sangat dekat dengan jalur utama Ketapang–Pontianak.

Konflik Satwa dan Tekanan Habitat

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menilai kasus ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi habitat yang kian tertekan. Alih fungsi lahan dan perambahan liar membuat ruang hidup satwa liar menyempit, sehingga orangutan terdorong mendekat ke area kebun dan permukiman warga.

Situasi tersebut juga memperbesar risiko bagi kedua pihak. Warga terancam kehilangan hasil kebun, sementara orangutan berhadapan dengan bahaya jika terus berada di wilayah yang ramai aktivitas manusia.

Diperiksa Tim Medis Sebelum Dilepasliarkan

Sebelum dipindahkan, orangutan itu lebih dulu dievakuasi menggunakan peluru bius dan menjalani pemeriksaan medis. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya luka lama di tangan kiri serta kondisi gigi yang rusak akibat usia tua. Meski begitu, secara umum kondisinya masih dinilai memungkinkan untuk kembali hidup di habitat alaminya.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran memakan waktu sekitar tujuh jam. Setibanya di Hutan Lindung Gunung Tarak, orangutan tersebut dilepasliarkan dan menunjukkan perilaku liar, tanda bahwa satwa itu masih mampu beradaptasi dengan lingkungan bebas.

Gunung Tarak Jadi Tempat Aman yang Dipantau

Gunung Tarak dipilih bukan tanpa alasan. Kawasan ini dinilai cocok sebagai habitat orangutan karena memiliki populasi rendah, sekaligus terhubung dengan Taman Nasional Gunung Palung. Di lokasi itu juga tersedia stasiun pemantauan untuk mengawasi perkembangan satwa setelah dilepasliarkan.

Kepala KPH Ketapang Selatan, Kuswadi, mengingatkan pentingnya menjaga kawasan hutan seluas 21.000 hektare agar tetap berfungsi sebagai ruang hidup satwa liar. Sementara itu, Kepala BKSDA Kalbar, Murlan Dameria Pane, menegaskan bahwa translokasi ini menjadi bentuk komitmen nyata dalam menjaga keanekaragaman hayati di Kalimantan Barat.

Kasus ini kembali menunjukkan bahwa ketika hutan menyempit, konflik dengan satwa liar tinggal menunggu waktu. Menjaga kawasan alam bukan sekadar urusan konservasi, melainkan juga cara paling masuk akal untuk mencegah pertemuan berbahaya di batas kebun dan hutan.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler