Kidulting kini menjadi tren di kalangan generasi Z dan milenial, yang umumnya berusia di atas 20 tahun. Kidulting merupakan istilah yang mencakup pembelian boneka Labubu atau mainan edisi terbatas oleh orang dewasa sebagai cara untuk memanjakan diri dengan hal-hal yang biasanya disukai oleh anak-anak. Fenomena ini pertama kali muncul pada tahun 1980 dan dikenal luas setelah muncul dalam majalah Time pada 11 Agustus 1985. Ini berarti anak-anak yang berpura-pura dewasa dan orang dewasa yang masih memiliki sisi kekanak-kanakan.
Menurut laporan Circana, pasar mainan telah melihat pertumbuhan signifikan dalam kelompok usia dewasa (18 tahun ke atas), dengan peningkatan penjualan sebesar 5,5 persen selama dua tahun terakhir. Produsen mainan kini mengembangkan produk mereka untuk pasar remaja dan orang dewasa, bukan hanya anak-anak. Hal ini didorong oleh nostalgia remaja dan orang dewasa yang merasa terikat dengan mainan dari masa kecil mereka, seperti Lego, Mattel, dan karakter superhero dari Marvel dan Justice League.
Pasar mainan Eropa terus berinovasi untuk menarik perhatian pasar baru ini. Perusahaan seperti Lego telah meluncurkan produk baru yang ditargetkan untuk remaja perempuan di atas 12 tahun, sementara waralaba pahlawan super juga meningkatkan penjualannya di antara orang dewasa. Penjualan mainan secara daring semakin memudahkan konsumen, terutama orang dewasa, dalam mendapatkan produk yang mereka inginkan.
Diversifikasi produk menjadi kunci dalam menarik konsumen dewasa, yang kini memiliki penghasilan sendiri dan mudah dalam melakukan pembelian. Perusahaan mainan perlu terus beradaptasi dengan perubahan pasar dan konsumen untuk tetap relevan dan bersaing. Kidulting bukan hanya tren sementara, melainkan fenomena yang terus berkembang di pasar mainan dewasa saat ini.


