Belajar Bahasa Isyarat dengan Teman Tuli: Panduan Praktis
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta Future Festival, sebuah stan justru mencuri perhatian karena menawarkan pengalaman yang tidak biasa: belajar bahasa isyarat langsung di lokasi. Stan Silang.id di Taman Ismail Marzuki, Cikini, menjadi ruang interaksi yang ramai didatangi pengunjung yang ingin mencoba mengenal dasar-dasar komunikasi dengan teman tuli.
Kelas singkat yang mengundang rasa ingin tahu
Berbeda dari pameran yang sekadar dilihat, kelas bahasa isyarat ini membuat pengunjung ikut bergerak, meniru, lalu mencoba mengingat huruf dan kata sederhana yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Silang.id membuka sesi tersebut tanpa sistem pendaftaran, sehingga siapa pun yang melintas bisa langsung bergabung dan belajar sejenak.
Fokus kelas ini memang masih pada pengenalan dasar. Namun, justru dari kesederhanaan itulah banyak pengunjung tertarik untuk ikut mencoba. Kehadiran stan ini menunjukkan bahwa bahasa isyarat bisa diperkenalkan dengan cara yang ringan, praktis, dan tidak terasa kaku.
Antusiasme pengunjung terus naik
Co-Founder sekaligus Chief Marketing Officer Silang.id, Hady Ismawan, menyebut respons pengunjung sangat tinggi. Setiap hari, ratusan orang datang untuk mengikuti kelas singkat tersebut, dan jumlahnya meningkat hingga mencapai puncak pada hari terakhir acara. Menurutnya, antusiasme itu menjadi sinyal bahwa minat terhadap bahasa isyarat mulai tumbuh, meski penggunaannya di Jakarta maupun kota-kota lain di Indonesia masih belum umum.
Tren itu sebenarnya sudah terlihat sejak pandemi. Saat itu, Silang.id menggelar kelas online yang diikuti 1.400 peserta. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan untuk memahami bahasa isyarat tidak hanya muncul di ruang publik, tetapi juga di ranah digital ketika banyak orang mencari cara berkomunikasi yang lebih inklusif.
Dari pengenalan menuju komunikasi yang lebih setara
Silang.id menempatkan bahasa isyarat bukan sekadar sebagai keterampilan tambahan, melainkan sebagai jembatan agar komunikasi menjadi lebih mudah diakses. Karena itu, selain kelas perkenalan di festival, platform ini juga menyediakan pelatihan yang lebih mendalam dengan pengajar yang merupakan teman tuli.
Di tengah meningkatnya kesadaran publik, bahasa isyarat semakin dipandang penting dalam berbagai konteks, termasuk profesi dan layanan publik. Kemampuan dasar ini bukan hanya memberi nilai tambah bagi individu, tetapi juga membantu menciptakan ruang komunikasi yang lebih setara bagi teman tuli, termasuk di bidang kesehatan dan lingkungan sekitar mereka.
Stan kecil di Jakarta Future Festival itu pada akhirnya menunjukkan satu hal sederhana: ketika kesempatan belajar dibuat dekat dan terbuka, bahasa isyarat tidak lagi terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.


