Igor Tudor memilih realistis setelah Juventus dipaksa menelan kekalahan telak 5-2 dari Manchester City pada laga terakhir Grup G Piala Dunia Antarklub 2025. Alih-alih mencari alasan, pelatih Juventus itu justru mengakui bahwa lawan mereka tampil jauh lebih kuat dan lebih rapi sepanjang pertandingan. Hasil ini sekaligus menegaskan jarak yang masih harus dikejar Juventus jika ingin benar-benar bersaing di level tertinggi.
City Menghukum Juventus di Laga Penentuan
Manchester City membuka keunggulan lewat Jeremy Doku sebelum Teun Koopmeiners sempat menyamakan kedudukan untuk Juventus. Namun, momentum itu tak bertahan lama. City kembali memimpin melalui gol bunuh diri Pierre Kalulu, lalu memperlebar jarak lewat Erling Haaland, Phil Foden, dan Savinho. Juventus dibuat kesulitan mengikuti tempo permainan City yang tampil agresif dan efisien sejak awal hingga akhir.
Di atas kertas, pertandingan ini memperlihatkan perbedaan yang cukup jelas. City menutup fase grup dengan catatan 13 gol dan hanya kebobolan dua kali. Juventus sendiri mengoleksi 11 gol, tetapi juga kemasukan enam gol. Meski Juventus menurunkan susunan pemain yang berbeda dari laga sebelumnya, perubahan itu tidak cukup untuk meredam dominasi tim asal Inggris tersebut.
Tudor Tetap Melihat Sisi Positif Juventus
Meski kalah telak, Tudor tetap mencoba mengambil pelajaran dari hasil tersebut. Ia menilai para pemainnya sudah menunjukkan dedikasi, meski pada akhirnya tidak mampu menahan kualitas City. Bagi Tudor, kekalahan ini tidak menghapus peluang Juventus untuk tetap bersaing di turnamen, terutama karena timnya masih punya potensi berkembang saat menghadapi lawan-lawan besar.
Dengan hasil ini, Juventus harus puas finis sebagai runner-up Grup G dan berpotensi bertemu Real Madrid pada babak 16 besar. Tudor tidak terlihat gentar dengan kemungkinan tersebut. Ia menegaskan bahwa dalam sepak bola, semua hal bisa terjadi, dan Juventus harus siap menghadapi siapa pun yang ada di depan mereka.
Ancaman Real Madrid Sudah di Depan Mata
Nama Real Madrid kini mulai mengintai perjalanan Juventus di fase gugur. Namun Tudor memilih tidak larut dalam kekhawatiran. Baginya, yang terpenting adalah menjaga kepercayaan diri tim setelah kekalahan berat dari Manchester City. Sikap itu menunjukkan bahwa Juventus masih ingin melanjutkan turnamen dengan mental bertarung, bukan sekadar menjadi pelengkap di babak berikutnya.
Source link


