Direktur Penganekaragaman Konsumi Pangan, Rinna Syawal, mengajak masyarakat untuk lebih mengenal potensi lokal sebagai sumber gizi yang luar biasa. Dalam Temu Ilmiah Nasional Persatuan Ahli Gizi Indonesia 2025 di Jakarta, ia menyoroti keberagaman sumber pangan lokal Indonesia yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Meskipun Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, konsumsi protein lokal yang umum di masyarakat masih terbatas pada beberapa jenis seperti hewan ternak dan ikan.
Rinna menekankan pentingnya memahami karakteristik pangan lokal yang diproduksi dan dikonsumsi secara turun temurun di wilayah setempat. Ia mencontohkan konsumsi ulat sagu yang berbeda-beda tergantung dari daerah asal masyarakatnya. Dalam presentasinya, Rinna menyebutkan adanya lebih dari 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, serta berbagai sumber karbohidrat dan protein lokal di Indonesia.
Manfaat mengkonsumsi pangan lokal tidak hanya dari segi gizi dan keberagaman, tetapi juga ekonomi, keberlanjutan lingkungan, keamanan pangan, dan pelestarian budaya. Program pengenalan pangan lokal kepada generasi muda serta dukungan dari pemerintah daerah diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan konsumsi pangan lokal di Indonesia. Program Makan Bergizi Gratis menjadi upaya untuk mendorong konsumsi pangan lokal di tingkat nasional.
Marudut Sitompul, Ketua Panitia Ilmiah Nasional Persagii 2025, sepakat bahwa perlu dorongan lebih untuk mempromosikan konsumsi pangan lokal secara luas. Ia juga sedang melakukan penelitian terkait cara menggunakan umbi-umbian sebagai alternatif pengganti nasi, dengan harapan dapat meningkatkan konsumsi dan nilai ekonomi umbi-umbian di Tanah Air. Dengan berbagai upaya ini, diharapkan konsumsi pangan lokal Indonesia dapat tumbuh dan memberikan manfaat yang optimal bagi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.


