Gelombang penolakan dari pasukan cadangan mulai menjadi masalah serius bagi rencana pemerintah Israel memperluas operasi militer di Jalur Gaza. Di tengah dorongan Benjamin Netanyahu untuk menekan Hamas agar menerima pertukaran sandera, ribuan tentara justru memilih tidak kembali ke medan perang. Bagi banyak di antara mereka, panggilan tugas berulang kali selama perang yang sudah berlangsung sejak 7 Oktober 2023 bukan lagi soal kesiapan, melainkan soal kelelahan, keraguan, dan rasa frustrasi yang menumpuk.
Respons Pasukan Cadangan Tak Lagi Seperti Dulu
Menurut laporan yang dikutip dari The Jerusalem Post, hanya sekitar 60 hingga 70 persen tentara cadangan yang dipanggil benar-benar hadir. Angka ini menandai penurunan yang cukup mencolok dibandingkan pola respons militer Israel yang selama ini dikenal cepat dan solid. Sejak agresi ke Gaza dimulai, banyak personel cadangan sudah dipanggil antara tiga hingga enam kali, membuat beban fisik dan mental mereka kian berat.
Sejumlah tentara bahkan tercatat telah bertugas lebih dari 275 hari. Mereka meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan kehidupan pribadi demi memenuhi panggilan militer, namun perang yang terus berlarut justru memperbesar rasa jenuh dan ketidakpastian. Dalam situasi seperti ini, semangat tempur yang semula dibangun dengan cepat berubah menjadi penolakan diam-diam untuk kembali ke garis depan.
Kelelahan dan Kekecewaan Mendorong Penolakan
Masalah ini bukan hanya soal fisik. Banyak tentara cadangan Israel disebut mengalami kelelahan emosional dan kekecewaan yang mendalam karena perang tak menunjukkan arah yang jelas. Mereka diminta terus bertugas, tetapi tujuan akhir operasi militer di Gaza tampak semakin kabur dari waktu ke waktu.
Di saat yang sama, muncul pula kesan adanya perpecahan di pucuk pimpinan Israel. Ketegangan antara Netanyahu dan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, ikut memperkuat kebingungan di kalangan prajurit. Zamir sendiri telah mengingatkan adanya krisis personel di tubuh militer Israel, sementara dua tujuan utama pemerintah dinilai saling bertentangan. Kondisi ini membuat banyak tentara cadangan mempertanyakan alasan mereka kembali dikirim ke perang yang belum juga menemukan ujungnya.
Pertanyaan Besar di Balik Mobilisasi Baru
Rencana memperluas serangan ke Gaza ternyata tidak otomatis dibarengi dukungan penuh dari mereka yang diminta bertempur. Justru, mobilisasi besar-besaran itu memperlihatkan tekanan internal yang makin nyata di militer Israel. Di atas kertas, panggilan tugas masih berjalan. Namun di lapangan, tingkat kepatuhan yang menurun menunjukkan ada keretakan yang sulit disembunyikan.
Situasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa perang yang berkepanjangan bukan hanya menguras sumber daya militer, tetapi juga menggerus kepercayaan para tentara terhadap arah kebijakan yang mereka jalankan.
Source link


