Ketegangan di Timur Tengah kembali naik setelah militer Amerika Serikat mengerahkan kapal perusak berpeluru kendali USS Milius (DDG-69) ke kawasan tersebut. Komando Pusat AS atau CENTCOM mengumumkan langkah itu di tengah memanasnya situasi, terutama setelah Iran melakukan uji coba rudal balistik yang memicu perhatian Washington.
USS Milius Dipindahkan dari Pasifik Barat
USS Milius, kapal perang yang dibekali sistem rudal kendali Aegis, sebelumnya bertugas di Pasifik Barat sebagai pendukung kapal induk nuklir USS Carl Vinson (CVN-70). Pemindahan kapal ini menunjukkan bahwa AS sedang menggeser sebagian kekuatan lautnya ke wilayah yang dinilai lebih rawan, seiring meningkatnya kekhawatiran atas program nuklir Iran.
Pentagon Siapkan Opsi di Tengah Ketegangan
Pentagon menegaskan pengerahan ini bukan sekadar rotasi biasa, melainkan bagian dari kesiapsiagaan menghadapi berbagai kemungkinan di lapangan. Salah satu skenario yang ikut diperhitungkan adalah jika jalur diplomasi tak membuahkan hasil dan Iran memilih langkah militer.
Presiden Donald Trump juga kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat siap mengambil tindakan militer apabila kesepakatan soal program nuklir Iran tidak tercapai. Di sisi lain, Menteri Pertahanan Pete Hegseth memerintahkan kapal induk nuklir USS Harry S. Truman (CVN-75) tetap berada di Mediterania timur untuk mendukung operasi terhadap kelompok Houthi di Yaman, yang disebut didukung Iran.
Pesan Kekuatan dari Washington
Rangkaian pengerahan ini memperlihatkan bahwa Washington tengah menyiapkan lebih dari satu lapis kekuatan di kawasan. Di satu sisi, AS ingin memberi sinyal tegas kepada Iran; di sisi lain, kehadiran armada tempur itu juga menjadi penopang operasi militer yang sudah lebih dulu berjalan di wilayah sekitar.
Dengan situasi yang masih bergerak cepat, kehadiran USS Milius menambah daftar aset militer AS yang kini dipusatkan di kawasan Timur Tengah, tepat saat ketegangan dengan Iran kembali menjadi sorotan utama.
Source link


