Masyarakat di Liquica, Timor Leste, menandai berakhirnya Program Penguatan Kohesi Sosial (SSCP) yang berjalan selama 30 bulan dengan satu pesan yang cukup tegas: penyelesaian konflik tidak selalu harus dimulai dari meja formal, tetapi bisa bertumpu pada praktik budaya yang sudah hidup di tengah warga.
Praktik budaya jadi alat meredam konflik
Dalam program ini, pendekatan seperti Tara Bandu dan Nahe Biti Boot ditempatkan sebagai bagian penting dari upaya membangun perdamaian, inklusi, dan manajemen konflik. Langkah tersebut menjadi salah satu pembeda SSCP karena tidak hanya mengandalkan sosialisasi umum, tetapi juga menghidupkan kembali mekanisme lokal yang dipahami masyarakat. Lebih dari 800 orang tercatat ikut dalam kegiatan Tara Bandu, menunjukkan bahwa pendekatan berbasis budaya masih memiliki tempat kuat dalam penyelesaian persoalan sosial di tingkat akar rumput.
Keterlibatan Kementerian Pemuda, Olahraga, Seni, dan Budaya (MJDAC) setempat, Sekretariat Negara untuk Seni dan Budaya (SEAC) setempat, serta para pemimpin daerah ikut memperkuat posisi Tara Bandu dalam program ini. Dukungan mereka juga tercermin dari alokasi sumber daya yang diarahkan untuk menjaga keberlangsungan kegiatan tersebut.
Kaum muda dan perempuan ikut didorong tampil
Uni Eropa, sebagai penggagas program, menyatakan apresiasi atas partisipasi kaum muda, terutama perempuan, yang tetap aktif mendorong perdamaian di tengah berbagai tantangan sosial. Selama pelaksanaan, SSCP menjangkau lebih dari 1.700 anggota masyarakat di Liquiça dan Bazartete melalui pendekatan yang dirancang untuk memperluas pemahaman, memperkuat tata kelola lokal, dan membenahi cara penyelesaian konflik di komunitas.
Program ini juga tidak berhenti pada diskusi di tingkat masyarakat. Pendidikan perdamaian dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, kapasitas LSM pemuda diperkuat, dan kegiatan kesadaran hukum digelar di tingkat desa agar warga lebih memahami hak-hak hukum yang mereka miliki. Dengan cara itu, konflik tidak hanya dibicarakan saat sudah membesar, tetapi dicegah sejak awal melalui pengetahuan dan keterlibatan lintas kelompok.
Warisan program yang ingin diteruskan
Mitra pelaksana dan para pemangku kepentingan menilai SSCP memberi dampak nyata, terutama dalam memperkuat organisasi masyarakat serta membuka ruang lebih luas bagi perempuan dan pemuda untuk terlibat dalam upaya perdamaian. Harapan yang kini mengemuka adalah agar pola kerja semacam ini tidak berhenti pada masa program, melainkan terus dijaga sebagai bagian dari cara masyarakat Timor Leste mencegah dan menyelesaikan konflik di masa depan.
Source link


