Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, mengajak generasi muda Indonesia untuk lebih memahami dan mengenal rempah-rempah asli Indonesia. Menurut Irene, penting bagi lebih banyak anak muda untuk terlibat dalam dunia kuliner guna meningkatkan daya saing Indonesia secara global. Dia menekankan betapa regenerasi pelaku kuliner perlu dimulai sejak usia dini, dengan penekanan pada pentingnya rempah-rempah sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia yang dapat memperkuat posisi negara di kancah internasional.
Sebelumnya, brand bumbu Koepoe-Koepoe telah bekerjasama dengan generasi muda untuk merawat warisan rempah-rempah khas Indonesia melalui ajang kompetisi memasak ‘Koki Muda Koepoe-Koepoe’ yang diperuntukkan kepada siswa SMK jurusan tata boga. Acara ini resmi diluncurkan di Jakarta pada tanggal 5 Agustus 2025 dan melibatkan 1.350 siswa dari 45 SMK di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Kompetisi ini menawarkan hadiah total senilai Rp 200 juta sebagai motivasi bagi para pelajar untuk mengeksplorasi kekayaan rempah lokal Indonesia.
Irene menegaskan bahwa pemerintah memberikan perhatian khusus pada sektor kuliner. Dia menyebut bahwa kuliner merupakan salah satu dari 17 subsektor ekonomi kreatif yang menjadi prioritas. Program-program seperti ini merupakan wujud sinergi positif antara pelaku usaha, dunia pendidikan, dan para kreatif yang bergerak di bidang ini.
Selain itu, dukungan dari dua tokoh penting dalam dunia kuliner Indonesia, Chef Rafael Triloko Basanto, Presiden Association of Culinary Professionals (ACP) Indonesia, dan Chef Ronald Noverson Tokilov alias Chef Ron dari Balicooks, turut memperkuat kompetisi ini. Mereka berpendapat bahwa program ini menggabungkan nilai tradisi dan inovasi dalam mencetak generasi chef yang siap bersaing di pasar global tanpa kehilangan akar budaya Indonesia.
Kompetisi ‘Koki Muda Koepoe-Koepoe’ tidak hanya sekadar ajang untuk menunjukkan kemampuan memasak, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran yang nyata. Peserta memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi rempah-rempah tanpa batasan tema tertentu. Selain lomba, acara juga akan menghadirkan demo masak dan berbagi tips dalam mengolah rempah sehingga tetap mempertahankan cita rasa khas seperti bumbu ulegan.
CEO PT Anggana Catur Prima, Harry Widjaja, mengungkapkan bahwa kompetisi ini bukan hanya sekedar perlombaan belaka, namun juga sebagai upaya edukatif yang mendorong siswa untuk lebih memahami, mengolah, dan mencintai rempah-rempah Nusantara. Dia menekankan pentingnya siswa belajar menggunakan rempah secara kreatif dan inovatif, sambil tetap mempertahankan cita rasa masakan Indonesia.
Harry juga menyampaikan bahwa timnya bertekad untuk memberikan ruang edukatif yang menginspirasi para calon chef muda agar lebih memahami dengan mendalam rempah-rempah Indonesia, meningkatkan keterampilan kuliner, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya Indonesia melalui kekayaan kuliner yang ada. Keikutsertaan dalam ‘Koki Muda Koepoe-Koepoe’ merupakan bukti dari komitmen perusahaan dalam menjaga dan memperkaya cita rasa kuliner tradisional. Program ini juga diharapkan dapat menjadi jembatan edukatif antara dunia sekolah dan industri kuliner Indonesia.


